Pengkhianatan Penguasa Negeri Muslim Mendukung Israel

“Seandainya saya seorang pemimpin Arab, saya tidak akan pernah menandatangani sebuah perjanjian dengan Israel. Adalah hal yang normal; kami telah merampas negara mereka. Benarlah, Tuhan menjanjikan tanah itu kepada kami, tapi bagaimana hal itu dapat menarik perhatian mereka? Tuhan kami bukanlah Tuhan mereka. Telah ada Anti – Semitisme, Nazi, Hitler, Auschwitz, tapi apakah itu kesalahan mereka? Mereka tidak melihat malainkan satu hal: kami telah datang dan telah mencuri tanah mereka. Kenapa mereka mau menerima itu?” David Ben Gurion – Perdana Menteri Israel yang pertama. (1)

Pernyataan yang dibuat oleh Ben Gurion pada tahun 1948 ini mengungkapkan suatu persekongkolan besar mengenai Para Penguasa Muslim di mata kaum Zionis. Bahkan Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel menganggap penanda tanganan sebuah perjanjian dengan seorang Penguasa Muslim dengan Negara Israel adalah suatu pengkhianatan atas masyarakat yang mereka wakili. Namun, pada hari ini para Penguasa Muslim itu tidak hanya puas dengan pengkhianatan yang mereka lakukan dengan menanda tangani perjanjian-perjanjian dengan Negara Israel, bahkan mereka juga bekerja untuk melakukan normalisasi hubungan antara Negara yang keberadaanya tidak sah itu dengan Negara-negara Muslim dan mereka juga melawan setiap penentangan atas Negara penjajah Israel. Hal inilah yang menyebabkan mengapa Ben Gurion menganggap para Penguasa Muslim itu berada satu tenda dengan Israel ketika dia mengatakan bahwa para penguasa Arab adalah barisan pertama pertahanan bagi Israel, dia juga mengatakan “Para rezim Muslim adalah artifisial dan mudah bagi kamu untuk menganggap remeh mereka” (2). Apa yang dia maksud sebagai artifisial adalah bahwa para penguasa Muslim itu telah dipaksakan keberadaanya atas ummat sejak dihancurkannya Khilafah Usmani pada tahun 1924.

Kegagalan para penguasa Muslim untuk merespon agresi yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh Negara-negara non-muslim atas ummat Islam telah mengungkap pengkhiatan para penguasa Muslim tersebut. Pengkhianatan paling tinggi kita saksikan selama perang yang terjadi baru-baru ini antara Israel dengan Hizbullah, ketika para penguasa Muslim menyalahkan Hizbullah sebagai pihak yang menyulut peperangan.

Perang tersebut sebenarnya disulut oleh Israel dengan rencananya untuk melucuti senjata Hizbullah, yang merupakan kekuatan militer satu-satunya di wilayah itu yang menentang Israel dan melindungi rakyatnya dari agresi Israel. Kebanyakan berita media barat yang bias menyalahkan Hizbullah sebagai pihak yang memulai perang tapi ketika kita memeriksa sebuah laporan PBB atas konflik itu sejak penarikan mundur Israel dari Libanon pada tahun 2000, laporan itu menyebutkan banyak pelanggaran yang dilakukan Israel:

“Berkaitan dengan pelanggaran udara, laporan tadi menyatakan bahwa pesawat-pesawat Israel melanggar garis perbatasan hampir setiap hari, dengan melakukan penetrasi jauh kedalam wilayah udara Libanon” (Jan-Juli 2001)

“Dengan kekuatiran yang sama, menurut Sekjen PBB, Israel telah melakukan pelanggaran udara atas Garis Biru (Blue Line), yang terus terjadi hampir setiap hari, dengan masuk jauh ke dalam wilayah udara Libanon. Pelanggaran udara ini tidak bisa dibenarkan dan menimbulkan kekuatiran pada masyarakat sipil, khususnya atas pesawat yang terbang rendah memekakkan telinga di atas wilayah pemukian.”(Jan-Juli 2002)

“Sekjen PBB juga mengutarakan kekuatirannya yang dalam, bahwa “ Israel melakukan provokasi dan pelanggaran wilayah kedaulatan Libanon yang tidak bisa dibenarkan. Hizbullah kemudian melakukan pembalasan dengan menembakkan rentetan senjata anti pesawat udara di sepanjang Garis Biru “adalah pelanggaran yang merupakan ancaman langsung bagi kehidupan manusia “, tambahnya.” (Jan-July 2004).

Sekjen PBB melaporkan pada Dewan Keamanan pada tahun 2001/2002/2004

Jadi menurut Sekjen PBB pada tahun 2004, adalah Israel yang merupakan provokator dan Hizbullah hanyalah membalas agresi Israel.

Berkaitan dengan “penculikan” atas para serdadu Israel, Komite Palang Merah Internasional (the International Committee of the Red Cross – ICRC) pada tahun 2006 dalam laporannya mengenai Israel menjelaskan:

“Di akhir tahun 2005, sekitar 11,200 rakyat Palestina ditawan oleh Israel dalam unit-unit interogasi, pusat-pusat tahanan sementara, kamp-kamp tahanan militer, penjara-penjara dan markas-markas kepolisian”.

“Dari 12,192 tahanan yang dikunjungi, termasuk diantaranya 7,504 yang dimonitor secara individual (131 orang dari mereka adalah wanita dan 565 orang yang belum dewasa)”

Dokumen itu menyatakan bahwa ICRC mengeluarkan dokumen-dokumen pada 17,882 tahanan, sehingga jumlah total tahanan yang ditawan secara illegal mungkin lebih besar lagi jumlahnya. Angka-angka yang dikutip itu adalah angka para tahanan dimana ICRC memiliki aksek untuk itu. Ada sejumlah besar orang Muslim yang telah hilang dan karena itu tidak dilaporkan dalam angka-angka tersebut. Kebanyakan dari para tahanan itu telah diculik di jalan-jalan di Palestina atau di Lebanon. Adalah tidak berarti apapun bila 565 orang diantaranya adalah orang yang belum dewasa. Jadi, ketika Israel mengklaim bahwa negaranya telah diprovokasi untuk berperang dengan Lebanon dikarenakan penculikan tiga tentara Israel oleh Hizbullah, adalah merupakan pemutar balikkan fakta yang sangat nyata. Adalah jelas terlihat bahwa Israel adalah sang provokator.

Fakta-fakta yang diutarakan di atas telah diketahui dengan luas di wilayah itu dan khususnya juga oleh para penguasa Muslim, namun mereka tetap menyalahkan Hizbullah sebagai pihak yang menyulut perang, sehingga ini dijadikan alasan bagi mereka untuk tidak melakukan apapun. Mereka bahkan memecah belah umat dengan menyebutkan isu sekterian diantara Sunni dan Shiah, dengan menyoroti kenyataan bahwa Hizbullah adalah Shiah dan didukung oleh Iran. Alasan utama bagi sikap diam mereka adalah bahwa mereka tidaklah melayani kepentingan ummat ini, melainkan mereka melayani kepentiang tuan-tuan penjajah mereka : Amerika dan Inggris.

Menurut Abdullah Mohamed, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Kuwait:

“Menyalahkan Hizbollah adalah sebuah pesan kepada Amerika dari Negara-negara itu, yang mengatakan bahwa merekalah sumber kestabilan dan mereka akan terus melayani kepentingan Amerika di wilayah itu,”

Pernyataan Presiden Mubaraks mencerminkan pendirian seorang penguasa Muslim di wilayah itu:

“Mereka yang mendesak Mesir untuk berperang mempertahankan Libanon atau Hizbullah tidak sadar bahwa waktu berpetualang ke luar negeri sudah usai,”
“Mereka yang meminta kami untuk berperang akan membuat kami kehilangan semuanya dalam sekejap mata,”

“Tentara Mesir adalah hanya untuk melindungi Mesir dan ini tidak akan berubah,”

Press Trust of India (PTI) – Kairo, 26 July, 2006

Para penguasa ini pernah mempromosikan persatuan Arab dan mereka juga mengklaim mengutarakan persatuan Muslim melalui Organisasi Konperensi Islam (Organisation of Islamic Conferences -OIC). Tapi ketika mereka ditantang untuk bertindak untuk mempertahankan kesatuan itu mereka menunjukkan sikap egoisnya. Pernyataan Mubarak mengingatkan kita akan kata-kata Musharaf ketika Afghanistan diinvasi oleh Amerika tahun 2002, dia mengatakan: “Pakistan adalah yang utama”.

Tapi jangan terkecoh untuk berpikir bahwa mereka akan mempertahankan negara mereka, sebagaimana yang kita tahu yang terjadi atas Irak, dimana Sadaam Hussein tidak mengerahkan tentaranya untuk mempertahankan negaranya atas invasi yang dilakukan pasukan Amerika, dan adalah masyarakat dan para prajurit secara pribadi yang mengangkat senjata untuk mempertahankan Baghdad tahun 2003. Sebenarnya, pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh Raja Abdullah dari Yordania , Raja Abdullah dari Saudi Arabia dan Hosni Mubarak yang mengkritik Hizbullah secara mutlak memberikan justifikasi bagi serangan oleh Israel dan negara itu menganggapnya sebagai lampu hijau untuk menginvasi Libanon.

Para Penguasa Muslim telah banyak membuat alasan untuk tidak melakukan apapun, alasan yang utama adalah karena superioritas militer Israel dan bahwa berkonfrontasi dengan Israel akan membahayakan ekonomi nasional mereka. Mari kita lihat opsi-opsi apa yang ada bagi para penguasa itu:

  • · Militer – Konfrontasi Langsung
  • · Isolasi Ekonomi dan Budaya bagi Israel.

Militer

Angka-angka yang dikeluarkan di bawah ini menunjukkan bahwa tentara Muslim jika digabungkan akan mengalahkan jumlah personil angkatan bersenjata Israel dengan perbandingan 68 tentara Muslim: 1 tentara Israel. Negara-negara muslim Muslim mengeluarkan 17 kali lebih banyak anggaran militernya dibandingkan dengan Israel. Jadi jelaslah bahwa suatu gabungan tentara Muslim akan menjadi kekuatan militer yang dominan di wilayah itu. Bahkan dengan teknologi militer mereka yang maju, Israel tidak dapat mengatasi kekuatan militer yang begitu besarnya.

  Jumlah Penduduk Jumlah Personil Militer Aktif Jumlah Personil Militer yang bisa dikerahkan Pengeluaran Anggaran
(dalam $ milyar)
Israel 7,112,359 3,353,936 2,836,722 11.8187
         
Egypt 81,713,520 41,654,185 35,558,995 13.7836
Iran 65,875,224 39,815,026 34,344,352 19.0725
Jordan 6,198,677 3,371,706 2,886,132 2.4467
Syria 19,747,586 10,218,242 10,218,242 5.33183
Saudi 28,146,656 14,928,539 8,461,049 54.6
Turkey 71,892,808 39,645,893 33,444,999 45.2567
Yemen 23,013,376 9,932,593 3,585,947 3.71184
Libya 6,173,579 3,293,184 2,821,855 2.91408
Lebanon 3,971,941 2,229,474 1,883,155 1.25364
Kuwait 2,596,799 1,601,065 1,393,356 7.42
Oman 3,311,640 1,429,296 1,207,291 6.94146
Morocco 34,343,220 18,233,410 15,382,861 6.25
Algeria 33,769,668 19,327,735 16,357,759 7.3359
Tunisia 10,383,577 5,905,068 5,005,257 1.06498
Sudan 40,218,456 18,961,029 11,264,895 2.4294
         
Timur Tengah Muslim – 431,356,727 230,582,445 182,058,952 179.81263

Juga, setelah kita lihat selintas di perbatasan Israel jelaslah bahwa sebenarnya tidak mungkin bagi Israel untuk mempertahankan dirinya sendiri dari serangan darat yang dilakukan serentak dari Mesir, Yordania dan Syria. Anda mungkin akan heran jika dikatakan negara-negara itu belum pernah terlibat perang dengan Israel sebelumnya. Tentu saja pernah, tapi peperangan-peperangan itu sebenarnya adalah “perang yang telah dibuat scenario-nya” dengan tujuan mencari perdamaian bagi Israel.

Hal ini disebutkan oleh Mohammed Heikal dalam bukunya “The Road to Ramadan” (Jalan Menuju Ramadhan) – dimana dia mengutip ucapan salah satu jendral Sadat, Mohammed Fouwzi yang memberikan analogi atas seorang samurai yang menggambarkan dua pedang – sebuah pedang pendek dan sebuah lagi pedang panjang untuk suatu pertempuran. Fouwzi mengatakan bahwa peperangan ini (perang 6-hari tahun 1967) adalah suatu pedang pendek, yang menunjukkan sebuah pertempuran terbatas dengan motif-motif tertentu. Memang, pengkhianatan yang jelas ini yang dilakukan kepada ummat oleh Mesir sebanding dengan yang dilakukan Turki yang membantuTurki dalam latihan militernya. Seperti yang diberitakan oleh kantor berita Turki;

Sedang dibuat perjanjian militer yang bernilai milyaran dolar, kerja sama intelejen, manuver-manuver dan operasi-operasi rahasia antara Turki dan Israel. Pesawat-pesawat tempur Israel terbang di atas Konya. Proyek perisai rudal juga menjadi agenda dari kedua negara itu; masih menjadi pertimbangan bahwa rudal-rudal itu akan ditempatkan antara perbatasan Iran dan Syria. Pada wilayah seluas 20 ribu km2 di perbukitan Konya, ada banyak manuver ratusan pesawat tempur yang sedang membuat serangan nuklir. Lusinan contoh seperti ini dapat ditunjukkan. Singkatnya, Turki adalah teman dan sekutu Israel ” – (http://www.zaman.com/?bl=columnists&alt=&trh=20060824&hn=35945)

Blokade Ekonomi

Ini mungkin yang menyatakan sesuatu yang jelas tetapi daratan, laut dan udara Israel terkunci oleh negara-negara Muslim. Jadi Israel bergantung pada negara-negara Muslim untuk hidup dan akses ke dunia luar. Apa yang akan menjadi akibat dari bloade laut, darat dan udara?

Blokade Laut

98% (menurut beratnya) dari ekspor dan impor Israel adalah melalui perjalanan laut (www.jewishvirtuallibrary.org). Seperti halnya Angkatan Laut Israel yang mengenakan blokade laut di Libanon, maka akan mudah pula bagi Mesir, Suriah dan Turki untuk mengenakan blokade laut bagi Israel hingga ke laut Mediterania. Israel mengimpor 90% dari minyak yang dikonsumsinya, yang mayoritas diimpor dengan tanker-tanker minyak. Blokade ini akan memiliki dampak yang besar pada pemenuhan energinya. Pelabuhan-pelabuhan minyak yang utama adalah Ashkelon dan Eilat, dimana saat ini pelabuhan Ashkelon menerima minyak dari tanker-tanker lewat Bosphorus, yang dikendalikan oleh Turki. Pada tahun 1989, Mesir mensuplai sekitar 45% kebutuhan minyak Israel tetapi secara bertahap telah diganti dengan minyak Rusia, dan saat ini ia masih sekitar 26-30%. Minyak tanker yang tiba di Eilat harus melalui Teluk Aqaba yang perairannya yang dikendalikan oleh Arab Saudi dan Mesir. Ini adalah terusan sempit dan suatu blokade dapat dengan mudah dilaksanakan. Pelabuhan Eilat adalah strategis karena akan menjadi kunci dari titik pusat distribusi untuk minyak di Asia Tengah ke pasar dunia, BP (British Petroleum) berencana untuk memompa minyak melalui ladang minya Baku-Tbilisi-Ceyhan dan pipa gas bumi melalui Turki lewat pipa minyak Tipline Israel ke Eilat. Semua rute itu memerlukan persetujuan dari negara-negara Muslim. Dengan melanjutkan tema persyaratan energi ini, Mesir menandatangani perjanjian dengan Israel pada bulan Juli 2005 memasok Israel antara “1,7 sampai 3 miliar kaki kubik gas alam setiap tahun selama 15 tahun.” .”( www.arabicnews.com).
Blokade ini hanya akan membatalkan perjanjian yang berikut ini, yang benar-benar menunjukkan betapa para pemimpin itu adalah para pengkhianat yang membantu Israel:

“Kapal-kapal Israel, dan kargo-kargonya yang menuju atau berasal dari Israel, menikmati hak lewat gratis melalui Saluran Suez dan pendekatan melalui Teluk Suez dan Laut Tengah berdasarkan Konvensi Konstantinopel tahun 1888 “

“Pihak-pihak yang terkait menganggap selat Tiran dan Teluk Aqaba untuk menjadi perairan internasional ke semua bangsa secara leluasa dan memiliki kebebasan navigasi dan penerbangan yang tidak bisa dicabut.

“disepakati bahwa hubungan semacam itu akan mencakup penjualan minyak komersial oleh Mesir kepada Israel, dan bahwa Israel akan berhak sepenuhnya untuk melakukan tawaran minyak yang berasal dari Mesir ” (Perjanjian Perdamaian antara Negara Israel dan Republik Arab Mesir – 26/03/1979)

Perjanjian Perdamaian Antara Negara Israel dan Republik Arab Mesir – 26/03/1979

Blokade laut juga akan membatasi pengiriman dari air yang sangat vital dibutuhkan dari Turki ke Israel. Israel dan Turki menandatangani perjanjian ‘air untuk senjata’ pada bulan Januari 2004 di mana Turki akan “mengkapalkan 50 juta meter kubik air per tahun selama 20 tahun dari sungai Manavgat di Anatolia” (Guardian UK) ke Israel dalam tanker-tanker air.

Blokade Darat

Perjanjian perdagangan berikut berarti bahwa barang-barang diperdagangkan secara lintas batas antara Israel Mesir dan Yordania:
Kesepakatan Perdagangan dan Niaga (08/05/1980) – “Untuk memastikan pergerakan secara bebas barang-barang antara kedua negara, masing-masing pihak akan menyediakan barang bagi pihak lain, sesuai dengan hukum, peraturan dan prosedur yang berlaku di negaranya, yang berkaitan dengan ekspor dan impor barang-barang dan komoditas “. “Kedua negara akan saling menyetujui satu sama lain dengan perlakuan paling baik dari negaranya “.

Dampak dari perjanjian ini adalah peningkatan ekspor dari Israel ke Mesir dan Yordania menyebut laporan sebagai berikut:

“Ekspor Israel ke Mesir dan Yordania pada Januari-Mei 2006 meningkat, berkat adanya perjanjian ekspor Wilayah Industri Yang Memenuhi Syarat (Qualifying Industrial Zone -QIZ) antara Israel dengan kedua negara tetangga …. Ekspor ke Mesir meningkat 93% menjadi US $ 48,7 juta “(http://www.port2port.com)

Blokade Darat akan mempengaruhi perdagangan, pos dan komunikasi di antara Israel dan masyarakat internasional.

Blokade Udara

Perjanjian Transportasi Udara – 08/05/1980 – “Untuk terbang tanpa pendaratan melewati seluruh wilayah dari Pihak yang menanda tangani perjanjian.”. “Untuk melakukan pemberhentian di wilayah tujuan non lalu lintas yang disebutkan…

”Perjanjian untuk tujuan menurunkan dan mengambil penumpang internasional, kargo dan surat dari dan ke wilayah lainnya dari pihak yang menanda tangani kontrak.”

Penerbangan Internasional dari dan ke Israel memanfaatkan koridor udara lewat negara-negara Muslim. Menerapkan blokade akan memberikan dampak yang besar bagi pariwisata dan saluran-saluran komunikasi yang vital, yang diperlukan negara Israel untuk bisa beroperasi.

Negara-negara Muslim telah mendukung seruan untuk memboikot barang-barang Israel pada tingkat individual, tetapi tidak ada yang dilakukan pada tingkat negara. Sehingga umat dapat secara sangat efektif memboikot barang-barang Israel dan Amerika. Begitu hebatnya akibat boikot itu pada produk-produk Amerika oleh umat Islam di Arab Saudi sehingga pada tahun 2002 mengakibatkan menurunnya ekspor sebesar $ 2 miliar US pada eksport Amerika. Namun ini kecil artinya apabila kita bandingkan dengan investasi dari negara-negara Teluk di Amerika Serikat.

Dilaporkan oleh koran Pravda, Rusia bahwa total aset dari enam negara-negara Teluk Persia yang dievaluasi berjumlah 1,4 triliun dolar, 75% di antaranya berada di negara-negara G8. Angka tersebut mungkin sekali dua kali lipat atau bahkan lebih jika kita masukan investasi tidak langsung dan kerjasama yang dinikmati oleh Negara-negara Teluk Adanya tuntutan perkara senilai $ 1 triliun yang dikenakan atas Saudi Arabia oleh keluarga-keluarga yang terkena serangan atas Amerika menunjukkan bahwa investasi Saudi di AS mungkin sekitar $ 750 miliar (Agustus 2002-BBC).

Blokade Budaya

Pada bidang-bidang seperti Pendidikan, Media dan Budaya, telah ditanda tangani perjanjian antara Israel dan para tetangga negara Muslimnya. Tujuan dari perjanjian ini adalah untuk melunakkan kebudayaan Islam dan membuat Israel lebih dapat diterima di masyarakat Muslim. Berikut adalah tiga contoh dari perjanjian semacam itu:

Pendidikan-Protokol Mengenai Pendirian Pusat Akademi Israel di Kairo (25/02/1982) – “Kedua pihak telah sepakat untuk membentuk sebuah pusat akademik Israel di Kairo …. Pusat Akademi itu akan didirikan oleh Masyarakat Oriental Israel… .. “,” Untuk memberikan keramahan dan bantuan kepada warga negara Israel mengenai beasiswa dan kunjungan bagi ilmuwan. Melaksanakan seminar bagi para akademisi untuk kunjungan ilmuwan dan peneliti dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertemu dan bekerja sama dengan para akademisi dan peneliti Mesir”.

” Media-Protokol Kerjasama Antara Israel Dan otoritas Penyiaran Radio dan TV Persatuan Republik Arab Mesir – 16 / 02/1982
– “Kedua pihak akan bertukar program Radio dan Televisi Televisi program dan film, yang mencerminkan budaya, sosial, ekonomi dan kehidupan ilmiah di Negara-negara mereka”.

Kebudayaan- Perjanjian Kebudayaan Antara Negara Israel – 08/05/1980“kedua belah pihak akan mendorong dan mendukung kegiatan dan olah raga kaum pemuda di lembaga-lembaga masing-masing negara “.

“Kedua pihak akan mendorong kerjasama dalam dalam bidang budaya, seni dan ilmiah…” … “Pertukaran penerbitan budaya, pendidikan dan publikasi ilmiah”.

Ini tidak berakhir di sini saja. Kita tahu bahwa tujuan pembentukan PLO adalah untuk mengalihkan tanggung jawab membela Muslim Palestina dan melindungi Masjid Al-Aqsa kepada organisasi nasionalis seperti PLO. Sebenarnya, hal ini menjadi tanggung jawab para pemerintah Muslim yang jelas memiliki kemampuan untuk melakukannya tetapi berusaha untuk memalingkan harapan itu dari masyarakatnya sendiri. Demikian pula, sikap yang diambil ketika timbulnya isu untuk memboikot Israel adalah untuk mendorong umat untuk memboikot barang-barang Israel dan bahkan barang-barang Amerika karena dukungan dari produsen barang-barang itu untuk mendukung Israel.

Tetapi mereka sendiri telah menipu ummat dengan mengimpor produk-produk Israel di bawah label perusahaan-perusahaan Muslim. Dilaporkan pada tahun 2002 bahwa total barang-barang dari Israel senilai $ 150 juta diimpor ke Arab Saudi sendiri melalui 72 perusahaan di Yordania, 70 perusahaan di Siprus, 23 perusahaan di Mesir dan 11 perusahaan dari Turki. Rezim-rezim itu negara ketiga negara untuk menyamarkan sumber barang-barang itu (Deutsche Presse-Agentur).

Kesimpulan

Seseorang mungkin berpikir bahwa ini adalah pandangan yang disederhanakan dari suatu keadaan dan tidak mudah untuk menggerakkan tentara dan adalah sulit untuk menerapkan sanksi dan blockade pada sebuah negara. Jika itu masalahnya maka mengapa para penguasa Muslim itu berkumpul untuk membuat kekuatan dan bergabung dengan koalisi Anglo Amerika (Inggris Amerika) untuk menjatuhkan Sadaam dari Kuwait. Sesungguhnya di mata PBB dan masyarakat internasional, invasi ke Kuwait oleh Sadaam Hussien tidak berbeda dengan invasi ke Libanon oleh Israel. Apakah mungkin bagi PBB untuk menjatuhkan sanksi, menerapkan zona larangan terbang dan blokade laut selama 10 tahun tanpa kerjasama dengan para penguasa Muslim? Sama seperti Israel, Irak juga dikelilingi oleh negara-negara Muslim. Adalah para pengusa muslim itu lah yang sebenarnya menerapkan sanksi. Dapatkah anda mengingat para penguasa yang menentang atau melanggar sanksi-sanksi itu?

Saat ini pertanyaan yang seharusnya ada di pikiran anda adalah bagaimana kita membebaskan diri dari para pemerintah itu. Sejumlah opsi telah diusulkan kepada kami, seperti tidak memberikan suara bagi mereka. Kami telah melihat apa yang disebut pemilu demokratis di dunia Muslim sejak akhir Perang Dunia II namun mereka belum menghasilkan perubahan. Mereka hanya menghalangi perubahan dan memperkuat status quo. Ada berbagai upaya untuk membawa perubahan seperti dengan perjuangan bersenjata, tapi ini hanya menciptakan ketidakstabilan dan kehancuran dan membawa kita kembali ke tempat kita mulai. Masalahnya adalah bahwa umat Islam telah jatuh ke dalam perangkap dengan mengambil kebijakan-kebijakan dari para rezim korup itu dan para pendukungnya dari Barat yang selalu menyesatkan mereka. Tapi kebijakan kami, sebagaimana yang lainnya, terletak pada contoh yang diberikan oleh Nabi Muhammad (SAW) yang kita cintai.

Hanya Khilafah-lah, yakni sistem pemerintahan Islam, yang dapat menyatukan tanah kaum Muslim dan menghilangkan batas-batas negara yang telah dibuat diantara umat Islam agar mereka dalam keadaan terus menerus lemah dan terbelakang.

Hanya pemerintahan Khilafah-lah yang akan membentuk sebuah pemerintahan independen yang lepas dari kontrol Barat dan yang berkewajiban untuk melindungi kehidupan dan kehormatan kaum Muslim dan warga negara lainnya. Solusi-solusi yang diusulkan sebelumnya adalah dimaksudkan untuk memastikan bahwa perubahan menyeluruh tidak pernah bisa dicapai.

Hizbut-Tahrir adalah sebuah partai politik global yang beroperasi di berbagai negara di dunia Muslim yang bertujuan untuk memimpin umat untuk mendirikan kembali Khilafah. Partai ini bekerja secara politik untuk menyatukan masyarakat pada semua level dalam upaya mereka untuk mendirikan negara dan membawa perubahan menyeluruh.

Temukan caranya bagaimana Anda bisa bekerja dengan Hizbut-Tahrir untuk mendirikan kembali Khilafah dan membebaskan tanah kaum Muslim dari para penguasa Muslim dan para tuan-tuan penjajah mereka.

Muslim meriwayatkan dari al-A’araj, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya imam adalah perisai yang dibelakangnya umat berperang dan dan bersamanya umat melindungi diri mereka.”

Notes1 Dikutip oleh Nahum Goldmann di Le Paraddoxe Juif (The Paradox Yahudi), pp121.

Catatan:
1 Kutipan oleh Nahum Goldmann in Le Paraddoxe Juif (The Jewish Paradox), pp121.

2 David Ben-Gurion, Mei 1948, kepada Staf Umum. Dari Ben-Gurion, A Biography, karangan Michael Ben-Zohar, Delacorte, New York 1978.

(Diterjemahkan oleh Riza Aulia, The Muslim Rulers’ Support of Israel, Hizb.org.uk)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: