“Pluralisme” dan Manipulasi Orientalis

 

Written by Syamsuddin Arif, M. A

Usai menaklukkan Hilwan – satu propinsi di Irak — Nadhlah bin Mu’awiyah al-Ansari, komandan pasukan Muslim, menyaksikan peristiwa luar biasa. Saat itu masuk waktu maghrib dan Nadhlah pun naik ke sebuah tempat yang agak tinggi di lereng bukit untuk mengumandangkan azan. Anehnya, setiapkali Nadhlah selesai melaungkan kalimat azannya, spontan terdengar suara seseorang menjawabnya.

Selesai azan, Nadhlah berseru: “Siapakah engkau, hai orang yang dikasihi Allah? Apakah engkau Malaikat, jin penghuni di sini, atau seorang manusia?” Tiba-tiba terdengar suara gemuruh seperti gempa bumi. Bukit di depan Nahdlah terbelah. Lalu muncul seorang berambut dan berjenggot putih. Setelah memberi salam, orang misterius itu memperkenalkan diri: “Saya Zurayb bin Bartsamla, orang yang disuruh tinggal di bukit ini oleh hamba yang saleh ‘Isa bin Maryam a.s. dan didoakan oleh beliau dapat berumur panjang untuk menunggu turunnya beliau dari langit, dimana beliau akan memusnahkan babi, menghancurkan salib dan berlepas diri dari agama kaum Nasrani (yatabarra’ mimma nahalathu an-nashara).”

Kisah itu disebutkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi dalam kitabnya, al-Futuhat al-Makkiyyah, bab 36 (fi ma’rifat al-Isawiyyin wa aqthabihim wa ushulihim). Lalu apa pentingnya kisah tersebut? Menurut Ibnu Arabi, riwayat itu menunjukkan, bahwa pengikut Nabi Isa a.s. yang murni tidak hanya mengimani kenabian Muhammad saw. tapi juga beribadah menurut syari’at Nabi Muhammad saw.

Sebab, dengan kedatangan sang Nabi terakhir, syari’at agama-agama sebelumnya otomatis tidak berlaku lagi. Fa inna syari’ata Muhammad saw. naasikhah!, tegas Ibnu Arabi, seraya mengutip hadis Rasulullah, “Seandainya Nabi Musa hidup saat ini, maka beliau pun tidak dapat tidak, mesti mengikutiku (Law kana Musa hayyan ma wasi’ahu illa an yattabi’ani).” Di sini nampak cukup jelas sikap dan posisi Ibnu Arabi terhadap agama lain sebelum Islam.

Ironisnya, sejak beberapa dekade yang lalu hingga sekarang, tokoh sufi yang berasal dari Andalusia ini oleh sementara ‘kalangan’ acapkali ‘diklaim’ sebagai pelopor gagasan Islam inklusif, pluralis, dan dijadikan sebagai sandaran ide “penyamaan agama”. Namanya sering ‘dicatut’ untuk menjustifikasi ide pluralisme agama, bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah untuk “menuju Tuhan”.

Tidak hanya itu, Ibn Arabi bahkan ‘dijadikan bemper’ untuk melegitimasi asumsi para penganut ‘agama perennial’ (religio perennis) bahwa dalam aspek esoteris dan pada dataran transenden, semua agama adalah sama, karena semuanya sama benarnya, sama sumbernya (Tuhan), dan sama misinya (pesan moral, perdamaian, dsb). Pemahaman semacam ini dipopulerkan oleh F. Schuon, S.H. Nasr, W.C. Chittick dalam tulisan-tulisan mereka yang kini tampak mendapat banyak pengikut di Indonesia.

Untuk mendukung klaimnya, biasanya ‘kalangan’ ini mengutip tiga bait puisi Ibn Arabi dalam karya kontroversialnya, Tarjuman al-Asywaq, yang berbunyi: “Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka’bah tempat orang bertawaf, batu tulis Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya; demikianlah agama dan keimananku.”

Seolah membenarkan asumsinya sendiri (self-fulfilling prophecy), SH Nasr menyimpulkan bahwa di sinilah Ibnu Arabi “came to realize that the divinely revealed paths lead to the same summit” (Lihat: Three Muslim Sages [Delmar, New York: Caravan Books, 1964], hlm.118).

Sekilas memang nampak meyakinkan. Akan tetapi sebenarnya kaum transendentalis – sengaja atau tidak – menyembunyikan fakta bahwa Ibnu Arabi telah menjelaskan maksud semua ungkapannya dalam syarah yang ditulisnya sendiri, yaitu Dzakha’ir al-A’laq syarh Tarjuman al-Asywaq (ed.Dr.M.’Alamuddin asy-Syaqiri, Cairo: Ein for Human and Social Studies, 1995, hlm.245-6).
Di situ dinyatakan bahwa yang ia maksudkan dengan ‘agama cinta’ adalah agama Nabi Muhammad saw., merujuk kepada firman Allah dalam al-Quran 3 (Ali Imran):31, “Katakanlah [hai Muhammad!], kalau kalian betul-betul mencintai Allah, maka ikutilah aku! –niscaya Allah akan mencintai kalian.”

Dalam kitab Futuhat-nya (bab 178, fi Maqam al-Mahabbah), Ibn Arabi menyatakan bahwa cinta kepada Tuhan harus dibuktikan dengan mengikuti syari’at dan sunnah Rasul-Nya saw (al-ittiba’ li-rasulihi saw fima syara’a). Jadi, ‘agama cinta’ yang dimaksud Ibn Arabi adalah Islam, yaitu agama syari’at dan sunnah Nabi Muhammad saw, dan bukan ‘la religion du coeur’ versi Schuon dan para pengikutnya itu.

Selain bait puisi di atas, kaum Transendentalis juga giat mencari pernyataan-pernyataan Ibn Arabi yang dapat di’plintir’ to serve their own purposes. Ini biasanya disertai dengan tafsiran yang bersifat rekaan. Misalnya, terungkap dalam kalimat: “perhaps Ibn Arabi would also accept”, “may be that”, “Ibn Arabi might reply” dsb. (Lihat W. Chittick, “A Religious Approach to Religious Diversity” dalam buku Religion of the Heart: Essays presented to Frithjof Schuon on his eightieth Birthday, ed. S.H. Nasr dan W. Stoddart, Washington, D.C.: Foundation for Traditional Studies, 1991).

Lebih parah lagi — dan ini yang perlu cermati — adalah praktek menggunting dan membuang bagian dari teks yang tidak mendukung asumsi mereka. Sebagai contoh, bisa dilihat dalam buku karya Chittick berjudul Imaginal Worlds: Ibn Arabi and the Problem of Religious Diversity, New York: State University of New York Press, 1994. (Tahun 2001, karya Chittick ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul: “Dunia Imajinal Ibn ‘Arabi: Kreativitas Imajinasi dan Persoalan Diversitas Agama”). Sayangnya, penerjemah tidak memberikan kritik terhadap Chittick, bahkan memberi kata pengantar berjudul: “Titik Temu Agama dalam Realitas Ketuhanan”. Isinya, menjelaskan seolah-olah Ibn Arabi memang mempunyai pandangan tentang “kesatuan agama” (the Unity of Religions)
Padahal, karya Chittick ini sangat perlu dikritisi, terutama ketika mengutip sebuah paragraf dari Futuhat (bab 339) yang mengungkap pendapat Ibn Arabi mengenai status agama-agama lain dalam hubungannya dengan Islam, Chittick tidak memuatnya bagian-bagian penting. Chittick memotong bagian penting, sehingga memberi kesan seolah-olah Ibnu Arabi menolak pendapat mayoritas kaum Muslimin bahwa semua agama samawi pra-Islam dengan sendirinya terabrogasi (menjadi tidak sah di hadapan Allah SWT) dengan datangnya Islam.

Menurut Ibn Arabi, semua agama dan kitab suci terdahulu harus diakui kebenarannya dalam konteks sejarah masing-masing — yakni sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. muncul. Dan ini merupakan bagian dari rukun iman. Validitas itu tidak berlanjut setelah kedatangan Rasulullah saw. “Nabi Isa pun, seandainya sekarang ini turun, niscaya tidak akan mengimami kita, kecuali dengan mengikut sunnah kita [Ummat Muhammad], dan tidak akan memutuskan suatu perkara kecuali dengan syari’at kita.” (Wa hadza ‘Isa idza nazala ma ya’ummuna illa minna, ay bi sunnatina, wa la yahkumu fina illa bi syar’ina), ” tegas Ibn Arabi (Lihat: Futuhat, bab 36).

Sikap Ibn Arabi tentang konsep mukmin-kafir juga jelas. Orang Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam tidak dikatakan murtad, karena ajaran murni agama mereka memang mengharuskan beriman mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. (Futuhat, bab 495, fi Ma’rifati hal quthb kana manziluhu “wa man yartadid minkum ‘an dinihi fayamut wa huwa kafir”).

Kasus Ibn Arabi dan manipulasi orientalis ini bisa ditemui dalam berbagai bidang pemikiran Islam. Seyogyanya kaum Muslim waspada terhadap pemikiran-pemikiran mereka dan tidak begitu saja mengutip tanpa mencermatinya (QS 49:6). Terlepas dari kontroversi tentang beberapa pendapat Ibn Arabi sendiri, adalah tidak etis, mencatut nama seorang pakar atau ulama, dengan memanipulasi pendapatnya. Apalagi digunakan untuk merusak aqidah Islam. Wallahu a’lam. (***)

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: