MAKNA-MAKNA LITERAL Dalam al-Quran

 

                Berargumentasi (istidlâl) dengan dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah adalah berargumentasi dengan menggunakan nash-nash keduanya.  Dengan demikian, agar mampu berargumentasi dengan al-Quran dan as-Sunnah, seseorang terlebih dulu harus memiliki kemampuan untuk memahami nash (teks), yaitu memahami kata-kata yang digunakan dalam nash (teks) tersebut dan macam-macamnya.  Memahami kata berarti pula memahami petunjuk-petunjuk (dalâlah) yang bisa ditangkap dari kata tersebut.  Petunjuk (dalâlah) kata sendiri dapat ditangkap dari penunjukkan suatu kata atas makna atau konotasi tertentu dan bisa juga ditangkap dari penunjukkan makna atau konotasi kata terhadap makna atau konotasi yang lain. Dengan kata lain, petunjuk dapat diperoleh  dari segi makna yang ditunjukkan oleh kata itu sendiri sebagai  makna yang dapat dipahami secara manthûq (harfiah/tekstual /literal) dan dari makna lain yang ditunjukkan oleh makna kata tersebut—bukan yang ditunjukkan oleh kata itu sendiri—  sebagai makna yang dapat dipahami secara mafhûm (maknawiah/konseptual/kontekstual).

Tulisan ini dimaksudkan untuk membahas lebih jauh tentang manthûq dan mafhûm sebagaimana yang diuraikan oleh Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitab asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah jilid 3 hlm. 180-194. Makna-makna literal (manthûq) akan diuraikan di bawah ini, sementara makan-makna konseptual (mafhûm) akan dipaparkan pada  kesempatan lain.

Kata obyektif (kata yang menunjukkan suatu makna), dilihat dari sisi penunjukkannya, dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: (1) dalâlah muthâbaqah; (2) dalâlah tadhammun; (3) dalâlah iltizâmDalâlah Muthâbaqah adalah petunjuk kata yang menunjuk pada pengertiannya secara sempurna. Dalâlah tadhammun adalah petunjuk kata yang hanya menunjuk secara parsial pada sebagian pengertiannya saja. Dalâlah iltizâm adalah petunjuk kata yang menunjuk pada konsekuensi logis atau interpretasi rasional dari kata. Dari ketiga bentuk dalâlah tersebut, yang dapat dipahami dari kata atau bentuk kata secara langsung, adalah dalâlah muthâbaqah dan dalâlah tadhammun sehingga keduanya termasuk bagian dari manthûq.  Sebaliknya, dalâlah iltizâm tidak dipahami dari kata atau bentuk katanya secara langsung sehingga termasuk bagian dari mafhûm.

Makna Literal (Manthûq)

     Manthûq adalah makna yang dapat dipahami dari petunjuk kata secara pasti  sesuai dengan posisi pelafalannya (mahâll an-nuthq) atau makna yang dapat dipahami dari kata secara langsung tanpa menggunakan perantara dan tidak ada kemungkinan lainnya.  Contohnya terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

 

 فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ 

Karena itu, janganlah engkau mengatakan “Hus!” kepada keduanya (kedua orangtua). (QS al-Isra’ [17]: 23).

Dari ayat tersebut dapat dipahami secara pasti dan langsung dari posisi pelafalannya (mahall an-nuthq) larangan berkata, “Hus!” kepada kedua orangtua

            Dalâlah manthûq, dilihat dari segi cakupan maknanya, dapat dibagi menjadi:

Pertama, Dalâlah Muthâbaqah. Dalâlah Muthâbaqah adalah petunjuk kata yang menunjuk pada konotasi atau pengertiannya yang sempurna.  Contohnya adalah kata al-insân yang menunjuk pada konotasi hewan yang berakal. Contoh lainnya terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَاْلأَذَى

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (hati si penerima). (QS al-Baqarah [2]: 264).

 وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّيْنَ

Dia termasuk orang-orang yang mendustakan lagi sesat. (QS al-Waqi‘ah [56]: 92).

Kata shadaqât dan adh-dhâllîn dalam kedua ayat di atas merupakan dalâlah muthâbaqah karena masing-masing menunjuk pada pengertiannya yang sempurna dan lengkap, bukan makna bagian/konotasi parsialnya. Kata shadaqât menunjuk pada konotasi “semua pengeluaran harta yang dimaksudkan untuk mencari keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.” Kata adh-dhâllîn digunakan untuk menyebut orang-orang yang sesat, yaitu orang kafir, yakni konotasinya secara menyeluruh dan lengkap (muthâbaqah).

            Kedua, Dalâlah Tadhammun. Dalâlah Tadhammun adalah petunjuk kata yang menunjuk pada sebagian makna/pengertian kata atau sebagai petunjuk kata atas pengertiannya secara parsial. Contohnya adalah kata al-insân yang digunakan hanya untuk menyebut hewan saja. Contoh lain terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

 خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Ambillah dari harta mereka zakat yang  dapat membersihkan dan menyucikan mereka. (QS at-Taubah [9]:103).

 غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

Bukan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula orang-orang yang sesat (Nasrani). (QS al-Fatihah [1]: 7).

Kata shadaqat[an] dan adh-dhâllîn pada kedua ayat tersebut merupakan dalâlah tadhammun karena masing-masing hanya menunjuk pada sebagian pengertiannya atau digunakan untuk menyebut pengertian parsialnya saja.  Kata shadaqat[an] dalam surat at-Taubah ayat 103 tersebut digunakan untuk menyebut zakat saja—zakat adalah bagian dari sedekah—karena adanya perintah “khudz” (ambillah) yang menunjuk hanya pada sedekah wajib saja tanpa mencakup sedekah tathawwu‘ (sunah). Begitu pula kata adh-dhâllîn dalam surat al-Fatihah ayat 7 yang digunakan untuk menyebut orang-orang Nasrani—Nasrani hanya bagian dari pengertian kata adh-dhâllîn—dan bukan dimaksudkan untuk menyebut orang-orang yang sesat secara keseluruhan, yaitu orang kafir.  Hal itu sesuai dengan hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan konotasi dari kata al-maghdhûb sebagai orang-orang Yahudi dan adh-dhâllîn  sebagai orang Nasrani. Dalam hal ini, ‘Adi ibn Hatim menuturkan:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ قَالَ هُمْ الْيَهُوْدُ وَلاَ الضَّالِّيْنَ قَالَ النَّصَارَى هُمْ الضَّالُّوْنَ

Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang firman Allah Swt. ghayr al-maghdhûb ‘alayhim (bukan mereka yang dimurkai). Beliau bersabda, “Mereka adalah orang Yahudi.” Juga tentang firman-Nya wa la dh-dhâllîn (bukan pula mereka yang sesat). Beliau bersabda, “Nasrani. Mereka adalah orang-orang yang sesat. (HR at-Tirmidzi, Hamad ibn Salamah, dan yang lain).[1]

            Dalâlah manthûq dalam penunjukkan maknanya ada yang secara jelas dan ada yang mengandung kekaburan. Dari aspek kejelasan penunjukkan maknanya, manthûq dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. 1.   al-Muhkam.

Al-Muhkam adalah kata yang memiliki kejelasan makna yang dimaksudkan pada tarap top level atau paling kuat, yaitu kata yang  menunjukkan makna yang dimaksud secara jelas, tidak memiliki kemungkinan untuk ditakwilkan maupun di-nasakh (dihapus).  Contohnya terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

 قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ  

Katakanlah, “Dia-lah Allah Yang Maha Esa.” (QS al-Ikhlash [112]: 1).

 إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  

Sesungguhnya Allah Mahatahu atas segala sesuatu. (QS al-Mujadalah [58]: 7).

  1. 2.   al-Mufassar.

Al-Mufassar adalah kata yang makna konteksnya tampak jelas dan tidak memiliki kemungkinan untuk ditakwilkan sekalipun memungkinkan untuk di-nasakh pada era risalah, yakni pada era kerasulan. Al-Mufassar bisa juga dikatakan sebagai kata yang tampak jelas maknanya dengan dalil yang pasti (qath‘î), yang tidak mengandung atau memiliki kemungkinan makna yang lain.  Hal ia banyak terkait dengan masalah hukum syariat. Contohnya terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

 فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً

Karena itu, cambuklah mereka sebanyak delapan puluh kali cambukan. (QS an-Nur [24]: 4).

Dalam surat an-Nur ayat 4 di atas, makna yang dapat dipahami hanya satu, yaitu hukuman bagi orang yang menuduh qadzaf dan tidak bisa menghadirkan empat orang saksi adalah dicambuk delapan puluh kali; tidak ada kemungkinan makna lainnya. 

3. An-Nash.

An-Nash adalah sistem yang tampak jelas makna konteksnya  sekalipun memiliki kemungkinan untuk ditakwilkan dan di-takhshîsh  atau sesuatu yang melalui sîghat (bentuk)-nya sendiri yang menunjukkan makna asal yang dimaksudkan. Contohnya terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

 

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا  

Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berpendapat bahwa jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS al-Baqarah [2]: 275).

Ayat tersebut secara jelas dan tegas menafikan kesamaan atau kemiripan antara jual-beli dan riba.

  1. 3.   Azh-Zhâhir.

Az-Zhâhir adalah sesuatu yang menunjukkan pada makna asal penggunaan atau makna konvensionalnya, namun memungkinkan untuk dibawa ke pengertian lain secara marjûh atau yang dilemahkan.  Contohnya terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

 فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ

Siapa saja yang terpaksa (memakannya) sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. (QS al-Baqarah [2]: 173).

Kata bâgh[in] dinyatakan untuk menyebut dua makna: al-jâhil (bodoh) dan azh-zhâlim.  Makna al-Jâhil adalah makna yang marjûh (dilemahkan), sedangkan azh-zhâlim adalah makna yang râjih (yang dikuatkan) karena tampak (zhâhir) dari konteks ayatnya.

            Azh-Zhâhir dapat pula diartikan sebagai sesuatu yang secara langsung dapat dipahami dari ungkapan kata itu sendiri tanpa memerlukan indikasi (qarînah) lain, tetapi mafhûm-nya bukan yang dimaksudkan secara asali dari konteksnya. Contohnya terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

 فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

Kawinilah oleh kalian wanita-wanita lain yang kalian senangi, dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja. (QS an-Nisa’ [4]: 3).

Makna yang secara langsung dipahami dari ayat tersebut tanpa perlu adanya indikasi adalah kebolehan mengawini wanita yang disenangi dua, tiga, atau empat orang wanita.  Akan tetapi, makna tersebut tidak dimaksudkan oleh konteks ayat di atas secara asalnya. Makna yang dimaksudkan atau dikehendaki adalah pembatasan jumlah wanita yang boleh dikawini dalam satu waktu, yaitu sebanyak empat orang, atau mencukupkan diri dengan mengawini satu orang wanita saja. Ini adalah makna zhâhir yang harus dikedepankan.

  1. 4.   al-Mu‘awwal.

Al-Mu‘awwal adalah kata yang pengertiannya mustahil dibawa ke makna lahiriahnya, tetapi harus dibawa ke makna lain yang dikehendaki sesuai dengan konteksnya. Kata demikian juga termasuk jenis manthûq karena makna lahiriahnya mustahil dan lemah, sedangkan makna yang dikehendaki jelas lebih kuat karena kata itu sendiri menyatakan atau menjelaskan yang demikian. Contohnya terdapat dalam  firman Allah Swt. berikut:

 وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. (QS al-Hadid [57]: 4).

Jika ungkapan di atas dibawa ke  pengertian eksplisit, yaitu kebersamaan Zat Allah dengan zat manusia di mana saja manusia berada, jelas mustahil.  Sebaliknya,   jika ungkapan tersebut dibawa ke makna bahwa Allah Mahakuasa, Mahatahu, dan Maha Mengurusi, justru memberikan pengertian yang sahih sesuai dengan yang dikehendaki oleh konteks ayat di atas tanpa adanya rekayasa.

            Kelima dalâlah (petunjuk) di atas termasuk yang jelas.

Sebaliknya, dalâlah (petunjuk) yang mengandung kekaburan adalah sebagai berikut:

  1. 1.   al-Khafi.

Al-Khafi adalah dalâlah yang paling rendah level kekaburannya. Petunjuk maknanya jelas, namun karena faktor tertentu, dapat mendatangkan kesalahan.  Contohnya terdapat dalam firman Allah Swt.  berikut:

 وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

Laki-laki pencuri dan wanita pencuri maka potonglah tangan masing-masing dari keduanya. (QS al-Maidah [5]: 38).

Kata as-sâriq merupakan kata yang jelas sesuai dengan konteksnya. Akan tetapi, apakah kata tersebut dapat diterapkan atas lafazh ath-tharar, yaitu menghipnotis orang dan mengambil hartanya di hadapan korban;  apakah relevan dengan kata an-nabâsi, yaitu mengambil kain kafan jenazah yang telah dikuburan. Dengan menganalisis kata ath-tharar dan an-nabasi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kata ath-tharar jelas dapat diterapkan atasnya makna sariqah (pencurian), sedangkan untuk kata an-nabasi masih diperlukan kerja keras untuk mencari relevansinya. Sebab, an-nabasi memang mengambil harta bukan miliknya, tetapi harta tersebut termasuk harta yang tidak dikehendaki atau diingini oleh orang.

  1. 2.   al-Musykil.

Al-Musykil adalah dalâlah yang ketidakjelasannya terletak pada katanya itu sendiri, tetapi maknanya dapat diketahui dengan analisis.  Contohnya terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوْء ٍ

Wanita-wanita yang ditalak hendaknya mereka menunggu masa ‘iddah untuk diri mereka selama tiga qurû’. (QS al-Baqarah [2]: 228).

Melalui perenungan dan analisis, kata qurû’ dapat diketahui maknanya dengan didukung oleh dalil.

 

  1. 3.   al-Mujmâl.

Al-Mujmal adalah kata yang bersifat global.  Maksudnya dapat dipahami dengan adanya penjelasan (bayân) dari dalil.  Contohnya adalah seperti kata shalat dan shaum yang dijelaskan lebih jauh oleh dalil-dalil.

  1. 4.   al-Mutasyâbih.

Al-Mutasyabih adalah dalâlah kata yang tidak jelas.

Pengklasifikasian manthûq di atas didasarkan pada cakupannya, apakah menyeluruh atau parsial, dan dari kejelasan dan kekaburan maknanya.  Dalâlah manthûq dapat juga diklasifikasikan dari aspek kata  dan maknanya menjadi haqîqî dan majâzî.

  1. 1.   Haqîqî-Haqîqî

Dalâlah muthâbaqah dan dalâlah tadhammun yang menggunakan kata haqîqî-haqîqî contohnya terdapat dalam firman Allah Swt. berikut:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَاْلأَذَى

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (hati si penerima). (QS al-Baqarah [2]: 264).

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin.(QS at-Taubah [9]: 60).

 

Kata shadaqât dalam surat al-Baqarah ayat 264 di atas menunjuk pada makna sedekah secara sempurna (muthâbaqah) dengan konotasi etimologis (haqîqah lughawiyyah). Sebaliknya, dalam surat at-Taubah ayat 60, kata tesebut hanya menunjuk pada konotasi etimologis (haqîqah lughawiyyah) dengan makna parsialnya (tadhammun), yaitu untuk menyebut zakat saja.

 

وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ

Adapun dia termasuk orang-orang yang dusta lagi sesat. (QS. al-Waqi‘ah [56]: 92).

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Bukan orang-orang yang dimurkai (Yahudi) dan bukan pula orang-orang yang sesat (Nashrani). (QS al-Fatihah [1]: 7).

Kata adh-dhâllîn dalam surat al-Waqi‘ah ayat 92 di atas menunjuk pada maknanya secara sempurna (muthâbaqah) dengan konotasi syar‘î (haqîqah syar’iyyah), yaitu semua orang kafir.  Sebaliknya, dalam surat al-Fatihah ayat 7, kata tersebut hanya menunjuk pada konotasi syar‘î (haqîqah syar’iyyah) dengan makna parsialnya (tadhammun), yaitu kaum Nasrani saja.

 

  1. 2.   Haqîqî-Majâzî

Dalâlah muthâbaqah dan dalâlah tadhammun yang menggunakan kata haqîqî-majâzî contohnya terdapat pada firman Allah swt. berikut:

 ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ

Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat panas. (QS ad-Dukhan [44]: 48).

 

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا

Ia berkata, “Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban.” (QS Maryam [19]: 4).

Kata ar-ra’s[u] dalam surat ad-Dukhan ayat 48 di atas mencakup makna secara sempurna (muthâbaqah), yakni seluruh kepala dalam konotasi etimologis (haqîqah lughawiyyah wadh’iyyah). Sebaliknya, dalam surat Maryam ayat 4, kata tersebut hanya menunjuk pada makna parsialnya (dalâlah tadhammun), yakni bagian kepala yang ditumbuhi rambut. Penyebutan ar-ra’s[u]  (kepala) digunakan secara majâz[i], yaitu Majâz Mursal dengan hubungan kulliyyah, yakni menyebut keseluruhannya dengan maksud sebagian (ithlâq kull[i] wa irâdat al-juz’[i]). [YA]


[1] Ibn Katsir, Abu al-Fida’ Isma’il, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, juz I, hlm. 29, Dar al-Fikr, Beirut.

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: