MEMAHAMI SYUBHAH DALIL

Oleh Shiddiq al-Jawi

  Pengantar

            Pembahasan dalil syariat merupakan pembahasan penting dalam fikih dan ushul fikih, karena dalil syariat merupakan landasan hukum syariat (al-hukm asy-syar‘î). Dalil bagaikan pondasi sebuah rumah atau akar sebuah pohon. Manakala sebuah rumah dibangun tanpa pondasi atau sebuah pohon tidak mempunyai akar yang dalam, niscaya rumah atau pohon itu akan mudah roboh. Demikian pula halnya kedudukan dalil bagi hukum syariat. Keabsahan suatu hukum syariat bergantung sepenuhnya pada absah-tidaknya dalil yang mendasari hukum itu sebagaimana kekuatan hukum syariat juga bergantung sepenuhnya pada kekuatan dalilnya.[1]

            Mengingat urgensi dalil yang demikian itu, para ulama ushul fikih telah memberikan perhatian khusus pada pembahasan dalil ini. Mereka menjadikan pembahasan dalil sebagai satu dari tiga hal pokok yang dikaji dalam ilmu ushul fikih. Ushul fikih pada prinsipnya mengkaji: (1) dalil-dalil fikih yang bersifat global (ijmâl); (2) metode pengambilan hukum dari dalil-dalil tersebut; (3) keadaan/kriteria orang yang mengambil hukum itu (mujtahid).[2]

            Salah satu cabang pembahasan dalil ini, adalah pembahasan syubhah ad-dalîl. Istilah syubhah ad-dalil secara umum berarti dalil yang tidak kuat, baik berupa dalil global/ijmâlî maupun dalil rinci/tafshîlî. Akan tetapi, dalil tersebut masih dapat diterima dan dianggap sebagai dalil syariat sehingga hukum syariat yang didasarkan pada syubhah ad-dalîl itu masih dapat dipandang sebagai hukum syariat. Contoh syubhah ad-dalîl yang berupa dalil global (ijmâlî) adalah Syar‘u Man Qablanâ, Madzhab ash-Shahabi, al-Istihsân, dan al-Maslahah al-Mursalah.[3] Sebaliknya, syubhah ad-dalîl yang berupa dalil rinci (tafshîlî) adalah ayat al-Quran tertentu atau hadis tertentu yang mempunyai makna (dalâlah) yang zhannî dan marjuh (tidak kuat).[4]

Faedah adanya konsep dalîl dan syubhah ad-dalîl adalah untuk menjadi pedoman dalam memilah mana hukum yang absah sebagai hukum syariat dan mana yang tidak. Hukum syariat yang absah adalah yang didasarkan pada dalil atau syubhah ad-dalîl. Ijtihad yang keliru dan masih mendapat satu pahala berada pada kategori hukum yang didasarkan pada dalil atau syubhah ad-dalîl ini. Sebaliknya, jika suatu hukum tidak didasarkan pada dalil atau syubhah ad-dalîl maka hukum tersebut tidak dapat dipandang sebagai hukum syariat. Karena itu, seseorang yang menyimpulkan hukum yang tidak didasarkan pada dalil atau syubhah ad-dalîl tidaklah termasuk mujtahid yang masih mendapat satu pahala. Sebab, aktivitasnya bukan lagi tergolong ijtihad, melainkan suatu dosa dan kelancangan dalam agama Allah, karena dia telah mengatakan sesuatu tanpa ilmu pengetahuan. Allah Swt. berfirman: 

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Janganlah kalian mengikuti apa yang kalian tidak ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. (QS al-Isra’ [17]: 36).

            Tulisan ini bertujuan membahas lebih jauh pengertian syubhah ad-dalîl tersebut, sebagaimana uraian Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani—rahimahullâh—dalam kitabnya,  Muqaddimah Dustur (1964), halaman 45-75, dan kitab Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah (1953), jilid III, halaman 399-437.

Pengertian Dalil

            Untuk dapat memahami pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani tentang syubhah ad-dalîl, paling tidak ada 2 (dua) konsep yang harus dipahami terlebih dulu, yaitu: (1) pengertian dalîl dan dalâlah serta râjih dan marjûh; (2) bahwa dalil syariat wajib bersifat qath‘î.

Dalîl, Dalâlah, Râjih, dan Marjûh.

Dalil (dalîl) secara etimologis (pengertian bahasa Arab) artinya adalah ad-dâl, yaitu sesuatu yang memberi petunjuk; juga  berarti mâ fîhi dalâlah wa irsyâd, yaitu sesuatu yang menunjukkan makna atau mengandung petunjuk.[5]

Sementara itu, secara terminologis (pengertian menurut ilmu ushul fikih), dalil syariat mempunyai pengertian:

هُوَ الَّذِ يُتَّخَذُ حُجَّةً عَلَى أَنَّ مَبْحُوْثَ عَنْهُ حُكْمٌ شَرْعِىٌ 

Sesuatu yang dijadikan hujjah (alasan) bahwa hukum yang dibahas (berdasarkan hujjah tersebut) adalah suatu hukum syariat.[6]

Definisi ini menunjukkan bahwa dalil syariat adalah alasan/dasar (hujjah) dari suatu obyek pembahasan yang berupa hukum yang ditunjukkan oleh dalil syariat. Jadi, dengan kata lain, dalil syariat  adalah hujjah bahwa hukum yang ditunjukkan oleh dalil itu adalah hukum syariat. Ringkasnya, dalil syariat adalah hujjah bagi hukum syariat.[7]

            Dalil syariat itu kadang-kadang mempunyai makna sebagai dalil syariat ijmâlî (bersifat global), dan termasuk ke dalam ushûl al-ahkâm atau ushûl asy-syarî‘ah. Dalil syariat ijmâlî ini adalah: al-Quran, as-Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Adakalanya dalil syariat mempunyai makna sebagai dalil syariat tafshîlî, yaitu dalil syariat yang terperinci yang bentuknya, misalnya, ayat tertentu atau hadis tertentu, yang mendasari hukum tertentu. Misalnya, ayat 183 surat al-Baqarah adalah dalil syariat tafshîlî yang mendasari wajibnya puasa Ramadhan.[8] 

            Dalil syarit dapat mempunyai dalâlah yang qath‘î dan dapat pula mempunyai dalâlah yang zhannî. Dalâlah artinya ialah apa yang dimaksud oleh suatu kata ketika kata itu diucapkan.[9] Ringkasnya, dalâlah adalah makna atau pengertian dari suatu kata.

            Dalâlah qath‘î artinya adalah suatu kata yang mempunyai satu makna yang pasti/tegas, yang tidak mempunyai makna lainnya. Sebaliknya, dalâlah zhannî adalah suatu kata mempunyai makna yang bersifat dugaan/tidak pasti, dalam arti, kata itu mempunyai lebih dari satu pengertian.

            Dari segi kekuatannya, dalâlah ada yang râjih (kuat) dan ada yang marjûh (lemah). Ini hanya terjadi ketika terjadi pertentangan (ta‘ârudh) antara dua dalil syariat yang mengalami proses tarjîh (analisis) setelah  tidak dapat lagi dilakukan langkah kompromi (jama‘) atau nasakh-mansûkh terhadap dua dalil itu. Dapat juga pertentangan itu terjadi pada satu dalil, bukan dua dalil, tetapi dalil itu menunjukkan dua makna yang kontradiktif yang harus di-tarjîh. Tarjîh sendiri adalah pemilihan dalil yang lebih kuat untuk diamalkan di antara dua dalil yang bertentangan karena adanya keunggulan pada satu dalil atas dalil lainnya.[10]

Dalil Syariat Wajib Bersifat Qath‘î

            Dalam pandangan Taqiyuddin an-Nabhani, dalil syariat wajb bersifat qath‘î (pasti). Sebab, dalil syariat adalah bagian akidah Islam, bukan bagian dari hukum syariat.[11] Dalil syariat wajib bersifat qath‘î maksudnya ia wajib dibuktikan ke-hujjah-annya berdasarkan dalil qath‘î, bukan dalil zhanni. Jadi, al-Quran layak menjadi dalil syariat, karena terdapat dalil qath‘î (bukan zhanni) yang menunjukkan ke-hujjah-annya. As-Sunnah layak menjadi dalil syariat, karena terdapat dalil qath‘î yang menunjukkan ke-hujjah-annya. Demikian juga dengan Ijma Sahabat dan Qiyas. Sebaliknya, dalil-dalil syariat lainnya semisal Ijma Mujtahidin, al-Maslahah al-Mursalah, dan al-Istihsân tidak layak menjadi dalil syariat, karena yang menjadi dasar ke-hujjah-an masing-masing adalah dalil zhanni, bukan dalil qath‘î.

Yang dimaksud dengan dalil qath‘î adalah dalil yang qath‘î tsubût dan qath‘î dalâlah. Qath‘î tsubût artinya pasti sumber periwayatannya dari Rasulullah (yaitu al-Quran dan Hadis Mutawâtir), sedangkan  qath‘î dalâlah artinya pasti maknanya dan bersifat tunggal atau tidak mengandung kemungkinan makna ganda. Dalil yang bukan qath‘î tsubût dan qath‘î dalâlah adalah dalil zhannî.

 

Pengertian dan Contoh Syubhah ad-Dalîl

            Setelah memahami uraian di atas, kiranya akan lebih mudah kita memahami apa yang dimaksud dengan syubhah ad-dalîl oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani.

            Syubhah ad-dalîl secara bahasa dapat diartikan sebagai sesuatu yang mirip dalil atau sesuatu yang serupa dengan dalil.[12] Dalam kitab-kitab Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, syubhah ad-dalîl mempunyai tiga pengertian: Pertama, syubhah ad-dalîl adalah dalil-dalil syariat yang ditunjukkan oleh dalil qath‘î sebagai dalil syariat—yaitu: al-Quran, as-Sunnah, Ijma  Sahabat, dan Qiyas—tetapi mempunyai dalâlah (makna) yang zhanni atau marjûh (lemah), bukan makna yang qath‘î atau râjih (kuat).[13]

Kedua, syubhah ad-dalîl adalah dalil-dalil syariat yang ditunjukkan oleh dalil zhanni sebagai dalil syariat—seperti al-Istishân, al-Maslahah al-Mursalah, Mazhab Sahabat, dan lain-lain—baik dalâlah-nya qath‘î maupun zhannî.[14]

Ketiga, syubhah ad-dalîl adalah wajh al-istidlâl[15] (cara penggunaan dalil) dari kedua dalil ini (poin pertama dan kedua di atas), yang didasarkan pada pengetahuan bahasa Arab (al-ma‘ârif al-lughawiyah) dan pengetahuan syariat (al-ma‘ârif asy-syar‘iyah) tentang al-Quran dan as-Sunnah.  Istidlâl berdasarkan pengetahuan bahasa Arab adalah istidlâl berdasarkan pembahasan bahasa (abhats al-lughah), misalnya penggunaan makna hakiki (asli) dan majazi (kiasan), kata murâdif (satu makna banyak istilah) dan musytarak (satu istilah banyak makna), serta manthûq (tekstual) dan mafhûm (kontekstual). Sebaliknya, istidlâl berdasarkan pengetahuan syariat tentang al-Quran dan as-Sunnah adalah istidlâl berdasarkan pembagian kata-kata al-Quran dan as-Sunnah, yaitu: kata amr-nahi (perintah-larangan), umum-khusus, mutlaq-muqayyad, mujmal-mubayyan (global-rinci), dan nâsikh-mansûkh.

            Contoh pertama. Sebagian ulama yang membolehkan muzâra‘ah (menyewakan tanah pertanian) dapat dikatakan masih mempunyai syubhah ad-dalîl sehingga pendapatnya masih dapat digolongkan pendapat islami. Mereka antara lain berdalil dengan as-Sunnah walaupun sebenarnya dalâlah-nya zhanni dan marjûh (tidak kuat). Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Umar r.a. berikut:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ عَامَلَ أَهْلَ خَيْبَرَ بِشَطْرِ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا مِنْ زَرْعٍ أَوْ ثَمَرٍ

 

Sesungguhnya Rasulullah pernah mengadakan muamalat dengan penduduk Khaibar dengan memberikan upah separuh hasil tanaman atau buah-buahan. (HR al-Bukhari).

Hadis ini dipahami sebagai dalil mengenai bolehnya menyewakan tanah pertanian. Hanya saja, dalâlah hadis ini adalah zhannî, karena hadis tersebut mengandung lebih dari satu makna, yaitu: muzâra‘ah dan mutsâqah. Kata min zar‘in (dengan upah separuh hasil tanaman, yaitu gandum) menunjukkan bahwa sebagian tanah Khaibar adalah tanah muzâra‘ah (tanah yang ditanami gandum). Sebaliknya, kata aw tsamarin (atau dengan upah separuh hasil buah-buahan, yaitu kurma) menunjukkan bahwa sebagian tanah Khaibar yang lain adalah tanah mutsâqah (tanah yang sudah berpohon kurma).

Akan tetapi, dalil-dalil lain mengenai tanah Khaibar menunjukkan tanah itu mayoritasnya adalah tanah musyajjarah (berpohon kurma), tetapi di sela-sela pohon-pohon itu memang ada lahan yang bisa ditanami gandum. Itu berarti tanah Khaibar sebagian besarnya adalah tanah musyajjarah (berpohon kurma) dan hanya sebagian kecil saja dari tanah itu yang ditanami gandum.[16]

Berdasarkan ini, jelaslah bahwa dalâlah zhannî yang râjih adalah bahwa tanah tersebut adalah tanah musyajjarah (tanah yang sudah berpohon kurma) dan muamalatnya disebut mutsâqah, yang panennya diperoleh dari pohon kurma yang sudah ada. Sebaliknya, dalâlah zhannî yang marjûh (lemah) adalah bahwa bagian lain dari tanah tersebut merupakan tanah yang ditanami (yakni, tanah yang ditanami gandum).

Contoh kedua. Sebagian ulama berpendapat bahwa seorang pekerja, misalnya saja seorang penjahit, yang berstatus pekerja khusus (âjir khâsh), tidak menanggung kerusakan pakaian yang dia jahit jika kerusakannya bukan disebabkan kelalaiannya. Sebaliknya, pekerja umum (âjir ‘âm) harus menanggung kerusakan tersebut, dengan alasan, agar ia tidak menerima pekerjaan (order) yang lebih berat yang berada di luar kemampuannya. Ini adalah contoh penggunaan al-Istihsân.

Pendapat ini tidak berlandaskan pada dalil syariat, bahkan berlawanan dengan dalil hadis. Sebab, Rasulullah saw. telah bersabda:

لاَ ضَمَنَ عَلَى اْلمُؤْتَمِنِ

Tidak ada tanggungan bagi orang yang dipercaya.[17]

Hadis ini bersifat umum sehingga mencakup seluruh orang yang dipercaya, baik âjir ‘âm (pekerja umum) maupun âjir khâsh (pekerja khusus). Jadi, jika terjadi kerusakan, keduanya tidak wajib menanggung ganti ruginya. Hanya saja, jika ulama berdalil dengan al-Istihsan, berarti mereka memiliki syubhah ad-dalîl.

Contoh ketiga. Ada yang berpendapat bahwa sanksi pemotongan tangan pencuri haruslah dipahami menurut makna substansialnya, bukan maksud harfiah (literal)-nya. Maksudnya, yang benar bukanlah pemotongan (al-qath‘u) tangan secara hakiki, tetapi bermakna majazi yaitu pencegahan (al-man‘u) terjadinya pencurian, baik dengan nasihat, penjara, dan sebagainya. Dalilnya adalah pemaknaan secara majazi firman Allah Swt.:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan maka potonglah tangan keduanya. (QS al Maidah [5]: 38).

Apakah pendapat ini masih mempunyai syubhah ad-dalîl berdasarkan pengetahuan bahasa Arab dan pengetahuan syariat  tentang al-Quran dan as-Sunnah?

Pendapat itu sungguh tidak memiliki syubhah ad-dalîl, apalagi dalil, karena metode istidlâl yang digunakan tidak sesuai dengan tinjauan bahasa Arab maupun pengetahuan syariat tentang al-Quran dan as-Sunnah.

Dari segi bahasa Arab, suatu kata tidak dapat diartikan secara majazi kecuali jika terdapat kesulitan untuk mengartikannya secara hakiki. Padahal, di sini tidak ada kesulitan sama sekali untuk mengartikannya secara hakiki. Artinya, pemotongan tangan secara hakiki itulah yang benar sehingga tidak boleh dialihkan pada makna majazinya.

            Dari segi pengetahuan syariat tentang al-Quran dan as-Sunnah pun, apabila diasumsikan bahwa kata al-qath‘u adalah kata yang mujmal (global)—sehingga bisa bermakna pemotongan anggota tubuh sampai terpisah (al-ibânah ‘an al-jasâd) dan juga bisa berarti hanya dengan melukainya saja (al-jarh)—maka Rasulullah saw. sebenarnya telah menjelaskan ke-mujmal-annya. Kata yang mujmal apabila telah ada bayân (penjelasan) dari Rasulullah saw. maka maknanya menjadi muta’ayyan (tertentu) dan tidak boleh tetap diartikan secara mujmal. Jika tetap diartikan secara mujmal, lalu apa gunanya penjelasan  (bayân) Rasulullah saw.? Bukankah Rasulullah saw. diberi tugas oleh Allah Swt. untuk menjelaskan al-Quran? (Lihat: QS an-Nahl [16]: 44).

Di samping itu, ‘Aisyah r.a. meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَ قَطَعَ يَدَ إِمْرَأَةٍ

Sesungguhnya Nabi saw. pernah memotong tangan seorang perempuan.[18]

Dengan demikian, orang yang mengatakan bahwa kata al-qath‘u maknanya adalah mencegah (al-man‘u) terjadinya pencurian dengan berbagai sarana—seperti dengan hukuman penjara—atau bermakna melukai saja (al-jarh), bukan pemotongan tangan secara hakiki (al-ibanah ‘anil jasad), maka orang tersebut sesungguhnya tidak memiliki syubhah ad-dalîl, apalagi dalil.

Karena itu, dapat dikatakan bahwa hukuman bagi pencuri selain sanksi potong tangan adalah hukum kufur yang tidak didasarkan dalil ataupun syubhah ad-dalîl sama sekali. Itulah hukum thâghût yang wajib untuk diingkari dan dimusnahkan dari muka bumi. []

M. Shiddiq Al-Jawi, Staf Pengajar STAIN Surakarta.


[1]     Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah. Beirut: Darul Ummah, 1994, jilid I, hlm. 238.

[2]     Syaikh Zakariya al-Anshari, Ghâyah Al-Wushûl Syarh Lubb Al-Ushûl. Semarang: Maktabah Usaha Keluarga, t.t., hlm. 4.

[3]     Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah. Al-Quds: Mansyurat Hizbut Tahrir, 1953, jilid III, hlm. 399. Berkaitan dengan pengertian masing-masing dari dalil-dalil ini dan contohnya, silakan merujuk pada berbagai kitab ushul fikih.

[4]     Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah Ad-Dustur, hlm. 74-75.

[5]     Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islâmiyah, jilid III, hlm. 58; Fathi Muhammad Salim, Al-Istidlâl bi azh-Zhanni fî al-‘Aqîdah, hlm. 21; Al-Jurjani, At-Ta‘rifât, hlm. 104; Imam Abu Ishaq Asy-Syairazi, Al-Luma’ fî Ushûl al-Fiqh. Semarang: Maktabah Usaha Keluarga, t.t., hlm. 3.

[6]     Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah, jilid III, hlm. 58.

[7]     Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islâmiyah, jilid I, hlm. 238.

[8]     Muhammad Husain Abdullah, Al-Wâdhih fî Ushûl al-Fiqh, hlm. 20 & 43.

[9]     Ad-Dalâlah artinya adalah al-irysâd (petunjuk) atau al-ma‘na (makna/pengertian). Dalam Kamus Al-Mu‘jam al-Wasith disebutkan, dalâlah: mâ yaqtadhîhi al-lafzh ‘inda ithlâqih. (Dalalah adalah apa yang dimaksud oleh kata saat kata itu diucapkan). Lihat: Ibrahim Anis et.al., Al-Mu‘jam al-Wâsith, hlm. 294. Dalam ilmu-ilmu bahasa Arab, istilah ‘ilmu-ma‘âni sering disebut juga ‘ilmu ad-dalâlah. Lihat: Chatibul Umam, Aspek-Aspek Fundamental dalam Mempelajari Bahasa Arab. Bandung: Alma’arif, 1980, hlm. 35.

[10]    Muhammad Husain Abdullah, Al-Wâdhih fî Ushul al-Fiqh, hlm. 387-400.

[11]    Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islâmiyah, jilid III, hlm. 60.

[12]    Dalam bahasa Inggris, syubhah ad-dalîl diterjemahkan semblance of dalil. (www.hizb-ut-tahrir.org/english/books/socialsystem/chapter 08.html).

[13]    Lihat:  Taqiyuddin An-Nabhani, Muqaddimah  ad-Dustûr, hlm. 75.

[14]    Lihat: Taqiyuddin An-Nabhani, Muqaddimah Ad-Dustûr, hlm. 74 & 75.

[15]    Terma istidlâl mempunyai beberapa makna dalam ushul fikih. Dalam konteks ini, istidlâl berarti kayfiyah al-istinbâth wa istikhrâj al-hukm min ad-dalîl (cara menggali dan mengeluarkan hukum dari dalilnya). Lihat: Fathi Muhammad Salim, Al-Istidlâl bi azh-Zhanni fî al-‘Aqîdah, hlm. 22. Istidlâl juga berarti mâ laysa bi nash wa lâ ijmâ‘ wa lâ qiyâs (dalil yang bukan nash, bukan ijma’, dan bukan qiyas), yaitu seperti al-Maslahah al-Mursalah, al-Istihsân, dan sebagainya. Dapat juga istidlâl itu berarti iqâmah dalîl min nash aw ijmâ‘ wa ghayrihima (menegakkan dalil dari nash, ijma’, atau dari selain keduanya). Lihat: Abdul Hamid Hakim, Al-Bayân, hlm. 127; Imam Asy-Syaukani, Irsyâd al-Fuhûl, hlm. 236.

[16]    ‘Abdurrahman al-Baghdadi, “Penyewaan Tanah Lahan”, Serial Hukum Islam. Bandung: Alma’arif, 1987, hlm. 34-36.

[17]    Muhammad Husain Abdullah, Al-Wâdhih fî Ushûl al-Fiqh, hlm. 144; ‘Atha` ibn Khalil, Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl, hlm. 110.

[18] ‘Abdurrahman al-Maliki, Nizhâm al-‘Uqûbât. Beirut: Darul Ummah, 1990, hlm. 60.

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: