Terdapat beberapa kekeliruan manusia abad ini tentang agama, yaitu:

  1. Menurut kebanyakan orang,”agama” (mencari agama yang benar) adalah permasalahan gaib atau sebuah dogma yang tidak bias dibuktikan kebenarannya secara ilmiah atau logika berpikir modern.
  2. Manusia merasa tidak lagi membutuhkan agama karena agama telah kehilangan fungsinya ketika ilmu pengetahuan alam  dan sosial telah berkembang sedemikian pesat. Mereka menyatakan: Pada masa lalu manusia tidak mampu mengungkapkan fenomena-fenomena alam yang dihadapinya oleh karena itu manusia mencari jalan keluarnya dan mengatakan perbuatan tersebut adalah perbuatan Tuhan. Sedangkan pada masa sekarang semua masalah fenomena alam tersebut telah terjawab oleh manusia tidak lagi membutuhkan agama atau Tuhan untuk menyandarkan diri, sebagaimana dikatan oleh Friedrich Neitzsche dan Marice Dirac.
  3. Sesungguhnya apabila ilmu pengetahuan kita jadikan sebagai sebuah pemikiaran yang berdiri sendiri, terpisah dari agama, maka ia akan menjadi nihil asama sekali bagi manusia dan kemanusiaan.

Diantara sebab dominant kekeliruan tersebut adalah:

  1. Para pemikir telah mengalami pengalaman pahit dalam agama (terkhusus Yahudi dan Kristen) yang tidak lagi sesuai dengan logika berpikir modern. Sangat disayangkan mereka begitu cepat mengambil keputusan untuk meremehkan agama, kalau tidak anti agama sama sekali, lalu denga mudah pula mereka membuang pemikiran tentang Tuhan secara mutlak. Dan sangat disayangkan pula, hanya dengan satu sample (agama) dalam sekian banyak populasi (agama), mereka telah meletakkan postulat dasar yang dianggap telah terbukti kebenarannya. Demikianlah contoh sebuah pernyataan kalangan ilmiah yang tidak ilmiah! Menggeneralisir hokum yang mereka dapat pada satu agama untuk diterapkan pada semua agama! Apa yang dibanggakan para ilmuan itu? Mereka hanya menemukan buku panduan mesin canggih lalu mengingkari pembuat adanya mesin! Kedudukan terhadap hokum (science) dengan manusia purba, tidaka ada bedanya, tidak lebih dari sekedar penonton! Nampaknya manusia purba lebih cerdas dari manusia modern memandang fenomena alam. Setelah mereka Allah bukakan sedikit kran “buku panduan”mesin-Nya, dengan serta merta mereka ingkar pada-Nya. (Lihat QS. Yunus:24)
  2. Manusia abad ini, kembali seperti  Ibrahim saat ia belum menjadi Rosul, bedanya Ibrahim sampai pada sebuah simpulan bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui Tuhan kecuali dengan Tuhan.
  3. Mereka telah menjadikan kegagalan dan pegalaman pahit mereka bersama “satu” agama dan beragama sebagai tolok ukur dalam menilai agama lain dan juga dalam memandang agama yang benar. Sedangkan gagama yang benar (Islam) dapat dibuktikan dengan ilmu pegetahuan modern dan logika berpikir ilmiah. Apakah manusia sudah mengkaji agama secara mendalam sebagaimana mereka serius pada ilmu alam,sosial, dan humanoria? Jawabannya “belum” dan “tidak mau”  dengan alas an risih dan memancing permusuhan sesame manusia! Manusia modern yang merasa liberal dalam dunia bebas berpikir ternyata menutupi diri untuk masalah yang sangat esensi ini. Sedangkan masalah kebebasab perilaku termasuk perilaku kelainan seksual mereka berikan pemikiran bebas sebebasnya sehingga sulit membedakan antara manusia dengan hewan 1
  4. Berdasarkan postulat-postulat berpikir yang belum teruji, mereka akhirnya punya kepercayaan bahwa agama adalah mitos dan mitos adalah agama. Selanjutnya karena agama dan akal tidak bias bersatu, mereka tidak mau menanggalkan dan membebaskan diri dari ajaran berhala dan mitos yang diwarisi oleh hamper semua agama di dunia ini, lalu berpegang pada akal dengan cara berpikir ilmiah.

Tawaran penulis kepada semua umat manusia :

ü  Tanggalakan semua mitos dan khurafat dari seluruh agama, dan dasari agama dengan cara berpikir ilmiah.

ü  Telaah ulang kitab-kitab suci semua agama, apakah ia dapat dipandang sebagai wahyu Tuhan Yang Mahabenar?

ü  Beranjak dari cara berpikir ilmiah kita seharusnya mengakui bahwa manusia punya fitrah Tuhan itu ada, fitrah manusia ingin dekat dengan Tuhan, dan fitrah manusia untuk ingin selamat setelah masa hidup di dunia! Manusia tidak mampu berhenti untuk percaya pada Tuhan, sebagaimana mereka tidak mampu membebaskan diri dari kebutuhan mereka pada agama dan “beragama”.

ü  Atas dasar itu pula manusia lari pada filsafat untuk mencari Tuhan, bahkan umat manusia pernah berkumpul sedunia atas nama konsili untuk merumuskan Tuhan dan agama, tapi tidak pernah berhasil. Sebuah usaha yang sungguh sangat melelahkan dan sia-sia belaka ! Saat mencari Tuhan melalui filsafat, yaitu pemikiran atau mungkin juga perkiraan manusia saja ! Ketika itu, mereka malu-malu untuk mengakui bahwa mereka sedang mencari Tuhannya yang hilang! Bukankah dengan menggerakkan kaki dan membuka mata kepada filsafat, itu menunjukkan bahwa fitrah sedang memerlukan sesuatu dan jiwa berada dalam kesunyian, serta ada rasanya kekosongan yang harus diisi! Kekosongan itu tidak bias diisi dengan musik, pesta pora, seks, makanan enak,dan jalan-jalan keliling dunia, atau keliling luar angkasa sekalipun! Kini filsafatlah yang menjadi agama mereka!Nah apakah yang sudah diberi filsafat kepada mereka? Ternyata filsafat tidak memberi mereka setetes air pelepas dahaga pun, bahkan mereka makin haus, kalau tidak bias dikatakan semaput!

ü  Mau kemana manusia ini akan pergi lagi? Tidak ada jawaban selain dari memilih jalan Tuhan Yang Mhabenar bagi mereka yang menginginkan petunjuk, “Maka kemanakah kamu akan pergi ? Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam,(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir:26-28)

ü  Tuhan Mahahebat,Mahabenar, dan Mahatinggi sebagai superioritas komplek yang diakui para ilmuan dan filsuf tidak terwujud dengan baik dalam berbagai agama.

ü  Point di atas tidak pernah dilakukan dan dibangun oleh umat manusia secara bersama! Sebagaimana mereka membangun peradaban material modern yang mengagungkan ini secara bersama pula!

ü  Mereka tidak mau melakukan hal demikian dengan alas an risih dan memancing permusuhan sesame manusia! Ini inti penyakit utama umat manusia dalam beragama. Dari jawaban atau alasan terlihat beberapa hal, yaitu:

  1. Sikap manusia untuk fanatic buta terhadap agama, terlebih lagi fanatic tersebut diikuti dengan sikap radikal untuk tidak membuka mata pada agama lain. Selanjutnya sikap fanatic ini ditumpangi oleh kepentingan politik, ekonomi, kesukuan, kebangsaan, atau ras, baik untuk individu maupun Negara. Sedangkan agama adalah masalah lintas semua masalah tersebut, dan masalah agama bukanlah masalah persaingan antarkelompok ataupun idiologi pemikiran, tapi ia adalah keberadaan manusia itu sendiri.
  2. Manusia tidak mau meletajkkan masalah agama sebagai masalah ilmiah yang dapat dipertanyakan dan diuji. Manusia modern yang merasa liberal dam dunia bebas berpikir ternyata menutupi diri untuk masalah yang paling esensi ini. Sedangkan masalah kebebasan perilaku kelainan seksual mrereka berikan pemikiran bebas sebebasnya sehingga sulit membedakan antara manusia dengan hewan ! Manusia tidak pernah melakukan diagnosa mendalam terhadap agama sebagaimana mereka mendiagnosa berbagai masalah alam, dan manusiatidak pernah melakukan operasi bedah Caesar atau bedah otak terhadap agama sebagaimana mereka melakukan hal itu pada tubuh manusia.
  3. Pada akhirnya, penulis menegaskan, manusia hanya akan mendapatkan bahwa agama yang benar adalah agama Islam.berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang dapat dianalogikan dan dianalisa, sedangkan dalil yang menunjukkan benarnya dibuktikan dengan kesimpulan yang dihasilkan. Ilmu pengetahuan modern yang akan kembali mempertegas bahwa Islam adalah yang benar.

Ilmu itu sendiri pincang untuk mempunyai peranan positif dalam membawa manusia untuk memecahkan teka-teki keberadaan ala mini atau keberadaan manusia dan tujuan akhir jalan hidupnya. ILMU YANG TERPISAH DARI AGAMA SAMA HALNYA DENGAN TUBUH TANPA NYAWA! Istilah “ilmu untuk ilmu” yang sering mereka dengungkan sebenarnya mewakili manusia yang bergerak dengan segala vitalitasnya dalam kehidupan ini tapui ia tidak punya tujuan; atau merepresentasikan manusia yang bergerak dengan segala vitalitasnya dalam kehidupan ini dengan gerakan serampangan yang tidak tau kea rah mana ia akan bergerak.

Sedangkan slogan “hidup untuk hidup” akibatbya kehidupan akan berubah menjadi mimpi buruk yang menakutkan atau beban yang sangat berat yang ia di atas pundaknya terbungkuk membawanya! Manusia itu akan sama saja dengan hewan, tuymbuhan, dan benda mati! Sedangkan mereka (hewan, tumbuhan, dan benda mati) hanya bagian pelengkan dari sebuah gambar atau latar belakang yang harus ada pada sebuah panorama manusia! Bila mereka menyadari hakikat ini, maka gambar pelengkap tersebut akan menjadi bukti terbaik dalam menunjukkan kebodohan manusia dan keterbatasan pemikiran mereka. Tapi mereka justru menjadikannya sebagai alat untuk kufur. Ya memang kesombongan hanyalah tanda dari orang-orang bodoh.

Sedangkan pemikiran yang berkembang adalah “agama adalah sumber Tuhan”, maka terjadilah banyak agama (pluralisme agama), sehingga setiap agama berhak memberikan batasan tentang Tuhan sesuai dengan yang digariskan para pemuka agama. Pada keadaan seperti ini, sulit untuk melakukan perbandingan ilmiah antara pemikiran pagan dan agama pagan! Karena melihat dari sudut pandang bahwa agama adalah sumber Tuhan.

Adalah merupakan suatu keharusan untuk kembali memformat agama dengan cara yang dapat menjamin tidak masuknya agama-agama buatan manusia (pagan). Hal itu dilakukan berdasarkan penerapan syarat-syarat untuk menilai kebenaran agama tersebut dimana sumbernya adalah Tuhan, bukan manusia, tapi dengan kacamata logika dan fitrah manusia. Dengan demikian akan dapat dicari mana agama yang benar.

Tulis sebuah Komentar

Required fields are marked *

*
*

%d blogger menyukai ini: